Lahir di desa dengan segala keterbatasan tak lantas membuat mimpinya ikut menciut. Dari bapak dan ibunya, ia melihat langsung bahwa keberanian itu bukan soal gebrakan besar, melainkan ketekunan melakukan hal-hal sederhana setiap hari. Pulang sekolah langsung ke sawah sudah jadi makanannya sehari-hari. Baginya, lumpur dan terik matahari adalah guru yang paling jujur untuk menempa mentalnya untuk terus mengejar apa yang ia cita-citakan.
Okta Sihotang