Logline:
Overwhelmed by corporate burnout, an adult son returns home for Christmas seeking refuge. Through the precision of his MYKITA | LEICA eyewear, he finds clarity not just in vision, but in life, as his mother’s gentle, non-judgmental wisdom brings his world back into focus.
Synopsis:
"When the World Blurs" juxtaposes the cold, chaotic blur of modern corporate life with the warm, grounding clarity of home. The protagonist, an exhausted professional, leaves the grey city behind to return to his mother’s house for Christmas.
In the sanctuary of her kitchen, he pours out his anxieties. Instead of lecturing him, his mother offers a listening ear and advice that is wise, loving, and profoundly non-judgmental. As she speaks, the protagonist adjusts his minimalist black frames—a MYKITA | LEICA collaboration.
Suddenly, the emotional fog lifts. The camera focuses on a subtle, tender detail: his mother shifting a warm mug to her other hand just to stroke his shoulder. Through the engineered precision of his lenses, this simple act of love is rendered in breathtaking detail, reminding him that true clarity comes from the people who make us feel seen.
Logline:
Tertekan oleh kelelahan dunia kerja, seorang anak yang telah dewasa pulang ke rumah saat Natal untuk mencari ketenangan. Melalui presisi kacamata MYKITA | LEICA miliknya, ia menemukan kembali kejernihan—bukan hanya pada pandangannya, tetapi juga pada hidupnya—berkat nasihat ibunya yang bijak dan penuh kasih.
Sinopsis:
"Saat Dunia Memburam" menyandingkan kekaburan dunia korporat yang dingin dengan kehangatan rumah yang menenangkan. Sang protagonis, seorang profesional yang kelelahan, meninggalkan keriuhan kota untuk pulang ke rumah ibunya demi merayakan Natal.
Di kehangatan dapur rumah, ia menumpahkan segala kegelisahan hatinya. Tanpa menghakimi atau menggurui, sang ibu mendengarkan dan memberikan nasihat yang bijaksana serta penuh kasih. Saat ibunya berbicara, sang protagonis membetulkan letak kacamata bingkai hitam minimalisnya—sebuah kolaborasi MYKITA dan LEICA.
Seketika, kabut emosional di kepalanya terangkat. Fokus visual terkunci pada satu detail lembut: sang ibu yang memindahkan cangkir hangat ke tangan satunya, semata-mata agar ia bisa mengelus pundak anaknya dengan leluasa. Melalui kejernihan lensa yang presisi, gestur cinta yang sederhana ini terlihat begitu nyata, mengingatkannya bahwa kejernihan sejati datang dari mereka yang tulus mengerti kita.
AI Tools Used (Tech Stack):
-
Image Generation: Google Imagen / Google Flash Image
-
Video Generation: Google Veo 3.1
-
Script & Concept: Gemini
-
Editing: Capcut Standard
-
The Brain and The Soul : Oktoleo Studio
Roy Suryadi