Kita sibuk menatap langit, membangun roket, dan ngotot mengejar bintang yang jaraknya miliaran kilometer. Kita paham bentuk galaksi, memetakan planet yang bahkan belum pernah kita sentuh. Kita bisa menghitung usia semesta, memperkirakan kapan bintang meledak, dan bikin nama keren kayak exoplanet biar terdengar pintar.
Tapi laut?
Yang letaknya persis di bawah kaki kita?
Yang nutupin lebih dari 70% permukaan bumi?
Yang baru kita jelajahi cuma 5%.
Di kedalaman 200 meter pertama, cahaya masih mampu menjangkau. Zona Epipelagik: dunia penuh warna, plankton fotosintesis, tempat biosfer kita bernafas. Setelah itu turun sedikit lagi ke 2000 meter, masuk ke Zona Bathial: matahari menyerah, dan makhluk hidup bikin lampu sendiri karena… ya siapa yang ngasih listrik? Manusia? Ngimpi.
Di bawah 6000 meter, Zona Abisal. Sunyi, dingin, tekanan bisa meremukkan kapal selam.
Turun lebih jauh lagi, The Hadal Zone. Jurang paling gelap di bumi. Lebih dalam dari Gunung Everest, ditumpuk terbalik.
Dan kita bahkan belum ngerti apa yang hidup di sana.
Kita bisa menjelaskan Mars.
Tapi kita nggak bisa menjelaskan apa yang ada di bawah kaki kita sendiri.
Mungkin kita bukan takut pada kegelapan.
Kita takut pada kenyataan bahwa kita tidak tahu apa-apa.
Immanuel Manurung